Jumat, 18 September 2026 Edisi Digital
Menulis dengan teliti · melihat dengan jernih
Terbaru
Politik & Publik · Berita & Laporan

Krisis Air Bersih dan Nasib Kota-kota Pesisir

Intrusi air laut makin dalam ke akuifer pesisir. Redaksi menelusuri bagaimana tiga kota menghadapi kekeringan yang tak lagi musiman.

Di sebuah kota pesisir di pantai utara Jawa, sumur-sumur warga mulai terasa asin sejak dua tahun terakhir. Pemeriksaan laboratorium menemukan kadar klorida melebihi baku mutu air minum pada dua dari tiga sampel sumur di kelurahan tepi laut.

Intrusi yang Bergeser Masuk

Para peneliti menyebut batas intrusi air laut di akuifer dangkal bergeser masuk hingga dua kilometer dari garis pantai dalam satu dekade. Penyebabnya berlapis: pengambilan air tanah yang tak terkendali, reklamasi, dan penurunan muka tanah yang mempercepat masuknya air laut ke lapisan air tawar.

Saluran air di permukiman pesisir pada musim kemarau.
Saluran air di permukiman pesisir pada musim kemarau.

“Kami kini bergantung pada pengiriman air tangki yang jadwalnya tidak pasti,” ujar seorang ketua RT di lokasi kunjungan. “Saat musim hujan pun sumur tidak bisa dipakai karena bercampur.”

Uji Ketahanan Tiga Kota

Redaksi menelusuri tiga kota dengan pola berbeda: kota A mengandalkan transfer air antardaerah, kota B membangun penyimpanan air hujan skala komunal, dan kota C menunggu perbaikan aliran sungai. Hasil sementara menunjukkan kombinasi — sumber air alternatif sekaligus pengelolaan permintaan — paling cepat meredakan ketegangan.

Mengelola air berarti juga mengelola kota: apakah bangunan boleh tumbuh sebelum pasokannya ada.

Pakar hidrologi menegaskan bahwa jawaban jangka panjang bukan satu bendungan raksasa, melainkan pembaruan data air tanah yang jujur, penegakan izin pengambilan, dan perlindungan daerah resapan yang selama ini dikorbankan untuk beton.

Bacaan Terkait

Lebih banyak →