Jumat, 18 September 2026 Edisi Digital
Menulis dengan teliti · melihat dengan jernih
Terbaru
Teknologi · Berita & Laporan

Serapan Kendaraan Listrik Melonjak 40% Sepanjang 2026, Infrastruktur Kejar Ketertinggalan

Adopsi kendaraan listrik tumbuh dua digit di kuartal ini. Namun kesenjangan jaringan pengisian di luar Jawa masih menjadi pekerjaan rumah terbesar regulator dan industri.

JAKARTA — Serapan kendaraan listrik di Indonesia melonjak 40 persen pada sembilan bulan pertama 2026 dibanding periode yang sama tahun lalu. Angka itu dirilis dalam laporan bulanan gabungan asosiasi industri otomotif dan kementerian terkait, yang mencatat lebih dari 138 ribu unit kendaraan listrik terjual hingga Agustus.

Pertumbuhan Dua Digit

Lonjakan ini tidak hanya didorong segmen roda dua yang selama ini menjadi tulang punggung pasar, tetapi juga kendaraan penumpang roda empat yang mulai bersaing lewat segmen harga menengah. Di bawah Rp 400 juta, kini tersedia delapan model dengan jangkauan tempuh rata-rata di atas 350 kilometer — angka yang setahun lalu hanya bisa ditemukan pada kendaraan premium.

Pemeriksaan rutin baterai di stasiun pengisian cepat.
Pemeriksaan rutin baterai di stasiun pengisian cepat.

Direktur riset sebuah konsultan energi menyebut faktor utama adopsi bukan semata harga, melainkan biaya operasional. “Dengan tarif listrik malam hari, biaya per kilometer kendaraan listrik sekitar separuh dari kendaraan berbahan bakar fosil,” katanya. “Perkembangan itu lebih cepat dari perkiraan kami semula.”

Pekerjaan Rumah di Luar Jawa

Meski optimistis, laporan yang sama menyebut rasio stasiun pengisian umum baru mencapai satu per 28 kendaraan di luar Pulau Jawa — tiga kali lebih timpang dibanding rasio nasional. Nusa Tenggara dan sebagian Sulawesi bahkan masih mengandalkan pengisian listrik rumah tangga karena belum ada pengisian cepat umum di jalur antarkota.

Adopsi hanya akan berkelanjutan bila infrastruktur bukan jadi teka-teki.

Regulator menargetkan penambahan dua ribu unit pengisian cepat hingga akhir tahun depan, dengan skema kerja sama badan usaha milik negara dan swasta. Namun pelaku industri mengingatkan bahwa penyediaan listrik di daerah 3T — terdepan, terluar, tertinggal — tetap menjadi tantangan paling berat.

Fokus pada Baterai dan Daur Ulang

Perhatian investor mulai bergeser ke hilir: pabrik sel baterai dan fasilitas daur ulang. Tahun ini ditandatangani setidaknya tiga kesepakatan investasi senilai lebih dari Rp 40 triliun untuk ekosistem baterai, yang diharapkan menekan harga rantai pasok lokal.

Analis menilai pertumbuhan ini masih bisa dijaga asalkan kebijakan insentif tidak berubah-ubah. “Stabilitas aturan, bukan besarnya insentif, yang paling menentukan investasi jangka panjang,” pungkasnya.

Bacaan Terkait

Lebih banyak →