Jumat, 18 September 2026 Edisi Digital
Menulis dengan teliti · melihat dengan jernih
Terbaru
Hiburan · Wawancara

Nekat, Kreatif, dan Konsisten: Percakapan dengan Perupa Muda

Dari studio sewa seluas kamar tidur hingga pameran tunggal. Ia menceritakan bagaimana rasa takut justru menjadi bahan bakar karya.

Namanya mulai terangkat setelah sebuah instalasi kayu bekas dermaga dipamerkan di galeri kota. Kini, di usia 29 tahun, ia akan menggelar pameran tunggal pertama. Kami menemuinya di studio sewa berukuran 3 x 4 meter yang sekaligus ruang tidurnya.

Bagaimana awalnya mulai berkarya?

Dari tidak punya apa-apa. Saya beli kayu bekas dari tukang bongkar, cat tembok sisa tetangga, dan mulai membuat bentuk-bentuk aneh yang saya pikir tidak akan pernah dilihat orang. Justru karya-karya itu yang diingat orang.

Apa yang paling menakutkan dalam prosesmu?

“Halaman kosong — dalam arti dinding kosong balok kosong — itu masih bikin lutut goyah. Tapi saya belajar bahwa rasa takut itu bukan musuh. Ia penanda bahwa ada sesuatu yang berharga pada garis berikutnya. Kalau tidak takut, biasanya karyanya juga biasa saja,” ujarnya sambil menyusun pisaunya.

Sepanjang percakapan, ia berkali-kali kembali pada satu kata: konsistensi. “Orang mengira kreativitas itu meluap-luap. Padahal bagi saya ia sangat membosankan: masuk studio jam sembilan, membuat gerakan kecil bahkan saat tidak ada pameran. Kreativitas adalah ketekunan yang menyamar,” katanya.

Apa nasihat untuk yang baru mulai?

Mulai dari yang ada. Dari gagal dulu, dari yang jelek dulu. Kalau menunggu mumpuni untuk mulai, tidak akan pernah mulai. Kekaryaan itu latihan, bukan tunggu izin.
Instalasi kayu bekas yang akan dibawa ke pameran tunggal.
Instalasi kayu bekas yang akan dibawa ke pameran tunggal.

Pameran tunggalnya bertajuk “Akar dari Beton” dijadwalkan dua bulan dari sekarang. Dari studio 12 meter persegi itu, ia sedang membuktikan bahwa ruang tidak menentukan imajinasi.

Bacaan Terkait

Lebih banyak →