Seni sebagai Hak atas Ruang Publik
Ketika taman-taman kota berubah menjadi ruang komersial, patung dan instalasi publik bukan hiasan — melainkan bukti bahwa kota itu hidup.
Dari studio sewa seluas kamar tidur hingga pameran tunggal. Ia menceritakan bagaimana rasa takut justru menjadi bahan bakar karya.
Namanya mulai terangkat setelah sebuah instalasi kayu bekas dermaga dipamerkan di galeri kota. Kini, di usia 29 tahun, ia akan menggelar pameran tunggal pertama. Kami menemuinya di studio sewa berukuran 3 x 4 meter yang sekaligus ruang tidurnya.
Dari tidak punya apa-apa. Saya beli kayu bekas dari tukang bongkar, cat tembok sisa tetangga, dan mulai membuat bentuk-bentuk aneh yang saya pikir tidak akan pernah dilihat orang. Justru karya-karya itu yang diingat orang.
“Halaman kosong — dalam arti dinding kosong balok kosong — itu masih bikin lutut goyah. Tapi saya belajar bahwa rasa takut itu bukan musuh. Ia penanda bahwa ada sesuatu yang berharga pada garis berikutnya. Kalau tidak takut, biasanya karyanya juga biasa saja,” ujarnya sambil menyusun pisaunya.
Sepanjang percakapan, ia berkali-kali kembali pada satu kata: konsistensi. “Orang mengira kreativitas itu meluap-luap. Padahal bagi saya ia sangat membosankan: masuk studio jam sembilan, membuat gerakan kecil bahkan saat tidak ada pameran. Kreativitas adalah ketekunan yang menyamar,” katanya.
Mulai dari yang ada. Dari gagal dulu, dari yang jelek dulu. Kalau menunggu mumpuni untuk mulai, tidak akan pernah mulai. Kekaryaan itu latihan, bukan tunggu izin.
Pameran tunggalnya bertajuk “Akar dari Beton” dijadwalkan dua bulan dari sekarang. Dari studio 12 meter persegi itu, ia sedang membuktikan bahwa ruang tidak menentukan imajinasi.