Dilema Transformasi Digital UMKM: Antara Modal dan Literasi
Digitalisasi bukan soal gadget termurah, melainkan ekosistem. Tanpa literasi yang merata, subsidi perangkat justru menciptakan ketimpangan …
Dalam wawancara khusus, Prof. Hendra Wijaya membaca sinyal pemulihan ekonomi sekaligus mengingatkan risiko fiskal di semester kedua.
Di tengah derasnya kabar soal pertumbuhan ekonomi, angka inflasi yang melandai kerap disambut sebagai kemenangan. Namun guru besar ekonomi Prof. Dr. Hendra Wijaya mengingatkan bahwa dua hal itu bisa berdiri berdampingan: harga terkendali dan dompet masih terasa sempit.
Belum tentu. Inflasi yang rendah sebagian karena permintaan yang masih lemah. Deflasi tipis bahkan bisa menjadi alarm, bukan kabar gembira. Kita harus jujur memisahkan stabilitas harga dari kesejahteraan.
“Pertumbuhan menumpu pada konsumsi pemerintah dan ekspor komoditas. Investasi swasta masih selektif. Jika pengeluaran prabayar dipangkas mendadak, target pertumbuhan akan menggantung,” jelasnya.
Pertumbuhan tanpa pemerataan hanyalah angka yang mempercantik laporan.
Jangan mengukur keberhasilan hanya dari PDB. Ukurlah dari berapa banyak keluarga yang tak lagi ragu membuka dompet di akhir bulan. Itu parameter yang jauh lebih jujur.
Perbincangan ditutup dengan catatan fiskal: ruang APBN makin tipis, utang makin mahal, dan pemerintah dituntut memilih prioritas — hal yang oleh Prof. Hendra disebut “seni tertinggi dalam mengelola negara.”