Jumat, 18 September 2026 Edisi Digital
Menulis dengan teliti · melihat dengan jernih
Terbaru
Bisnis & Ekonomi · Wawancara

Ekonomi 2026: Inflasi Terkendali, Tapi Daya Beli Belum Pulih

Dalam wawancara khusus, Prof. Hendra Wijaya membaca sinyal pemulihan ekonomi sekaligus mengingatkan risiko fiskal di semester kedua.

Di tengah derasnya kabar soal pertumbuhan ekonomi, angka inflasi yang melandai kerap disambut sebagai kemenangan. Namun guru besar ekonomi Prof. Dr. Hendra Wijaya mengingatkan bahwa dua hal itu bisa berdiri berdampingan: harga terkendali dan dompet masih terasa sempit.

Inflasi turun, berarti daya beli pulih?

Belum tentu. Inflasi yang rendah sebagian karena permintaan yang masih lemah. Deflasi tipis bahkan bisa menjadi alarm, bukan kabar gembira. Kita harus jujur memisahkan stabilitas harga dari kesejahteraan.

Apa yang Anda baca dari sinyal semester kedua?

“Pertumbuhan menumpu pada konsumsi pemerintah dan ekspor komoditas. Investasi swasta masih selektif. Jika pengeluaran prabayar dipangkas mendadak, target pertumbuhan akan menggantung,” jelasnya.

Pertumbuhan tanpa pemerataan hanyalah angka yang mempercantik laporan.

Apa pesan Anda untuk pemerintah?

Jangan mengukur keberhasilan hanya dari PDB. Ukurlah dari berapa banyak keluarga yang tak lagi ragu membuka dompet di akhir bulan. Itu parameter yang jauh lebih jujur.
Enam indikator ekonomi yang dipantau Editorial Sampai semester I 2026.
Enam indikator ekonomi yang dipantau Editorial Sampai semester I 2026.

Perbincangan ditutup dengan catatan fiskal: ruang APBN makin tipis, utang makin mahal, dan pemerintah dituntut memilih prioritas — hal yang oleh Prof. Hendra disebut “seni tertinggi dalam mengelola negara.”

Bacaan Terkait

Lebih banyak →